Merawat NTT dari Tanah Rantau: Ketika Salatiga Menjadi Ruang Pulang bagi Diaspora Flobamora


NTT - bidik-fakta.com
, Salatiga, 14 Juli 2026 — Ada satu hal yang tidak pernah bisa dipisahkan dari seorang perantau: kerinduan. Kerinduan kepada tanah kelahiran, kepada bahasa ibu, kepada kampung yang mengajarkan arti kebersamaan. Kerinduan itulah yang menjadi denyut utama dalam pertemuan konsolidasi Forum Pemuda NTT bersama berbagai organisasi diaspora Nusa Tenggara Timur di Kota Salatiga.


Ketua Umum Forum Pemuda NTT, Yohanes H. Ndale, didampingi Ketua DPW Forum Pemuda NTT Jawa Tengah, Yulius Albinus Pesa Gambe, menggelar konsolidasi bersama organisasi-organisasi mahasiswa dan paguyuban masyarakat NTT yang selama ini menjadi rumah bagi anak-anak Flobamora di tanah rantau.


Hadir dalam pertemuan tersebut:


- IKMASTI (Ikatan Keluarga Mahasiswa dan Siswa Timor di Salatiga) yang dipimpin Richardo H. T. Tacoy.

- HIMMASAL (Himpunan Mahasiswa Alor di Salatiga) yang diketuai Kristian Wagur.

- PERWASUS (Persatuan Warga Sumba di Salatiga) yang dipimpin Tania Malorung.


Pertemuan ini bukan sekadar agenda organisasi. Ia adalah ruang untuk menyatukan harapan, mempererat persaudaraan, dan menghidupkan kembali semangat besar "Ayo Bangun NTT." Sebuah ajakan yang lahir dari keyakinan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah meninggalkan kampung halaman, hati tetap memiliki tanggung jawab untuk kembali membangun tanah kelahiran.


Di tengah berbagai latar belakang, suku, pulau, bahasa, dan budaya yang berbeda, semangat persaudaraan Flobamora kembali diperteguh. Sebab NTT tidak dibangun oleh satu kelompok, melainkan oleh seluruh anak-anaknya yang percaya bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan alasan untuk terpecah.


Momentum konsolidasi ini juga mendapat perhatian dari Kapolres Salatiga, AKBP Adipapa Rihi, yang turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis, aman, dan penuh semangat kebangsaan di tengah keberagaman.


Pertemuan tersebut mengajarkan satu pelajaran sederhana namun mendalam: diaspora bukanlah orang-orang yang meninggalkan kampung halamannya. Mereka adalah mata air yang suatu hari akan kembali mengalirkan pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan pengabdian bagi tanah yang membesarkan mereka.


NTT mungkin dipisahkan oleh lautan, tetapi persaudaraan tidak mengenal batas geografis. Dari Salatiga, lahir kembali sebuah komitmen bahwa membangun NTT tidak selalu harus dimulai dari kampung halaman. Kadang, perubahan besar justru berawal dari ruang-ruang sederhana tempat anak-anak rantau saling menguatkan, saling merangkul, dan bersama-sama menyalakan harapan.


Karena pada akhirnya, kampung halaman bukan hanya tempat untuk pulang. Ia adalah alasan mengapa setiap langkah perjuangan di tanah rantau selalu memiliki arah.


Ayo Bangun NTT. Dari rantau kita berkarya, untuk Flobamora yang semakin bermartabat, maju, dan sejahtera.


Redaksi, Indra Gunawan Rawe

Komentar

Postingan Populer